Agam, Sumbar – Fokusteropong.com
Aksi warga Balai Selasa, Lubuk Basung yang menanam pisang di jalan provinsi viral, akhirnya direspons. Senin siang, Dinas PUPR Kabupaten Agam turun langsung ke lokasi dan memasang polongan besi di titik-titik lobang yang paling parah.
Langkah darurat ini jadi jawaban atas protes warga yang gerah menunggu perbaikan. Setelah video tanam pisang tembus ribuan tayangan dan menampar janji kampanye, Pemkab Agam tak bisa lagi diam.
Petugas PUPR Agam terlihat sibuk menurunkan dan mengunci polongan besi ke atas lobang menganga. Tujuannya jelas: meminimalisir korban sementara menunggu perbaikan permanen dari Pemprov Sumbar selaku pengelola jalan provinsi.
“Kami bergerak cepat begitu viral. Ini langkah sementara untuk keselamatan warga. Kami sudah koorGERAK CEPAT, PUPR AGAM PASANG POLONGAN BESI DI RUSAK BALAI SELASAdinasi ke Pemprov Sumbar agar perbaikan permanen segera dilakukan,” ujar petugas di lokasi.
Lobang Parah Dipicu Truk Over Tonase
Warga menyambut baik langkah cepat ini, tapi tetap waspada. Polongan besi memang mengurangi risiko jatuh, tapi bukan solusi akhir. Apalagi kalau hujan deras, plat bisa licin dan bergeser.
“Bagus cepat dipasang. Tapi kami tetap minta Pemprov jangan cuma ditutup seng atau plat saja. Perbaiki aspalnya dengan benar. Jangan tunggu ada korban lagi,” kata Heri.
Menurut warga, kondisi jalan Balai Selasa makin hancur bukan cuma karena lama tak diperbaiki. Tapi juga karena banyak kendaraan besar/truk yang melintas dengan muatan melebihi tonase. Beban berlebih itu menghantam aspal setiap hari, membuat lobang cepat dalam dan menganga.
“ cepat rusak lagi karena tiap hari dilewati truk-truk besar yang muatannya nggak ngotak. Aspal nggak kuat, akhirnya ambrol,” tambah endang.
Sebelumnya, warga geram karena jalan provinsi Balai Selasa kondisinya memprihatinkan. Lobang dalam menganga, puluhan motor sudah jadi korban. Janji “segera dikerjakan” dari Dinas Bina Marga Provinsi katanya bulan Mei di kerjakan lalu belum berwujud nyata.
Kini bola panas ada di Pemprov Sumbar. Polongan besi dari PUPR Agam hanya plester sementara. Obatnya tetap di tangan provinsi: aspal baru, drainase beres, jalan aman. Plus penegakan aturan tonase biar jalan nggak cepat rusak lagi.
Selama jalan belum diperbaiki total dan truk over tonase masih bebas lewat, pisang yang pernah ditanam warga akan jadi pengingat pahit: bahwa keselamatan warga tak boleh kalah cepat dari viralnya protes.(Mei Ridwan)
0 Komentar