LUBUK BASUNG, - Sumbar fokusteropong.com - Di tengah derasnya arus digitalisasi yang membuat siswa kecanduan gadget, media sosial dan game online, Kepala SMA Negeri 3 Lubuk Basung, Hilda Sridewita, S.E.,M.Pd.E. hadir dengan terobosan transformatif.
Melalui Praktik Baik Kepemimpinan Pembelajaran berjudul "Menyemai Karakter dan Kebiasaan Baik di Tengah Modernisasi Digital Murid SMAN 3 Lubuk Basung - Revitalisasi Masjid Nurul Ilmi sebagai sentra pembiasaan spiritual dan kedisiplinan murid", Hilda berhasil mengantarkan SMAN 3 Lubuk Basung menjadi sekolah yang seimbang: Cerdas Teknologi, Kokoh Karakter.
Karya ini diikutsertakan dalam .APRESIASI GTK PROVINSI SUMATERA BARAT 2026, Kategori Kepala Sekolah Transformatif.
Dilema Digital & Solusi Transformatif
Hilda mengungkapkan kondisi awal siswa sangat memprihatinkan. Waktu luang tersita media sosial dan gim daring, menggeser fokus ibadah. Sementara musala sekolah lama hanya mampu menampung 30-40 orang, sehingga ibadah tidak bisa serentak dan program keagamaan belum berjalan rutin.
"Kami tidak memusuhi teknologi, melainkan melatih murid mampu mengendalikannya. Pendidikan sejati melahirkan keseimbangan: cerdas teknologi di dunia, kokoh karakter di hadapan Tuhan," ujar Hilda Sridewita.
Solusi sistemik pun dilakukan melalui Revitalisasi Masjid Nurul Ilmi yang pembangunannya sempat terhenti sejak 2010.
3 Langkah Besar Revitalisasi Masjid Nurul Ilmi:
1. Melanjutkan Pembangunan: Menggerakkan pembangunan fisik masjid hingga mampu menampung 700 jamaah secara serentak.
2. Gotong Royong Multi-Pihak: Mobilisasi sumber daya bersama melalui iuran sukarela guru, komite, alumni, kepedulian masyarakat, hingga Pokir anggota dewan.
3. Sentra Karakter Sekolah: Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah formal, tetapi menjadi Laboratorium Moralitas, laboratorium pembentukan adab, kepemimpinan, dan etika murid.
4 Pilar Rutinitas Pembiasaan Harian di Masjid Nurul Ilmi:
1. Disiplin Gadget & Salat (Pengendalian Diri Nyata): Saat azan berbunyi, gawai diletakkan di ruang guru. Murid berwudu dan salat zuhur berjamaah satu saf.
2. Tahfiz Didukung Teknologi (Teknologi Sebagai Sahabat): Hafalan Al-Qur'an teratur memanfaatkan aplikasi murattal digital, dirayakan dengan wisuda tahfiz berkala.
3. Kultum Jumat Siswa (Public Speaking & Etika): Melatih keberanian berbicara di depan umum secara bergiliran dengan tema bijak bermedia dan akhlak mulia.
4. Wirid Remaja & Pesantren (Pergaulan Positif): Wadah interaksi positif, diskusi keagamaan, serta penguatan ukhuwah murid melalui kegiatan Ramadhan terpadu.
Hasilnya Luar Biasa, Terukur 2025-2026:
Berdasarkan Data Monitoring Keterlaksanaan Program SMAN 3 Lubuk Basung:
- Kultum Jumat (Keberanian Komunikasi): 90%
- Tahfiz Al-Qur'an Kelas X (103 Siswa): 86%
- Kegiatan Pesantren Ramadhan Terpadu: 85%
- Salat Zuhur Berjamaah Harian: 84%
- Wirid Remaja & Kajian Positif: 75%
- Wisuda Tahfiz Sekolah: 65%
84% siswa kini istiqomah salat berjamaah dan terbukti membangun kebiasaan meletakkan gawai saat waktu azan tiba.
"Hamparan Sajadah di Tengah Ratusan Gadget. Di tengah gadget yang terus berkembang, sajadah tetap terbentang. Di tengah derasnya informasi, Al-Qur'an tetap menjadi petunjuk," tutup Hilda Sridewita dengan filosofi kepemimpinan menggerakkan yang memberi keteladanan nyata, bukan sekadar memerintah.
Kepemimpinan Hilda Sridewita di SMAN 3 Lubuk Basung menjadi bukti bahwa keseimbangan zaman itu nyata: melahirkan generasi yang cerdas berteknologi dan santun serta bertakwa dalam kehidupan nyata. ( Mei Ridwan)
0 Komentar